Disebuah toko sepatu di kawasan perbelanjaan termewah di sebuah kota , nampak di etalase sebuah sepatu dengan anggun diterangi oleh lampu yang indah. Dari tadi dia nampak jumawa dengan posisinya, sesekali dia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memamerkan kemolekan designnya, haknya yang tinggi dengan warna coklat tua semakin menambah kemolekan yang dimilikinya.
Pada saat jam istirahat, seorang pramuniaga yang akan makan siang meletakkan sepasang sandal jepit tidak jauh dari letak sang sepatu.
“Hai sandal jepit, sial sekali nasib kamu, diciptakan sekali saja dalam bentuk buruk dan tidak menarik”, sergah sang sepatu dengan nada congkak.
Sandal jepit hanya terdiam dan melemparkan sebuah senyum persahabatan.
“Apa menariknya menjadi sandal jepit ?, tidak ada kebanggaan bagi para pemakainya, tidak pernah mendapatkan tempat penyimpanan yang istimewa, dan tidak pernah disesali pada saat hilang, kasihan sekali kamu”, ujar sang sepatu dengan nada yang semakin tinggi dan bertambah sinis.
Sandal jepit menarik nafas panjang, sambil menatap sang sepatu dengan tatapan lembut, dia berkata “Wahai sepatu yang terhormat, mungkin semua orang akan memiliki kebanggaan jika memakai sepatu yang indah dan mewah sepertimu. Mereka akan menyimpannya di tempat yang terjaga, membersihkannya meskipun masih bersih, bahkan sekali-sekali memamerkan kepada sanak keluarga maupun tetangga yang berkunjung ke rumahnya”.
Sandal jepit berhenti berbicara sejenak dan membiarkan sang sepatu menikmati pujiannya.
“Tetapi sepatu yang terhormat, kamu hanya menemaninya di didalam kesemuan, pergi ke kantor maupun ke undangan-undangan pesta untuk sekedar sebuah kebanggaan. Kamu hanya dipakai sesekali saja. Bedakan dengan aku. Aku siap menemani kemana saja pemakaiku pergi, bahkan aku sangat loyal meski dipakai ke toilet ataupun kamar mandi. Aku memunculkan kerinduan bagi pemakaiku. Setelah dia seharian dalam cengkeraman keindahanmu, maka manusia akan segera merindukanku. Karena apa wahai sepatu?. Karena aku memunculkan kenyamanan dan kelonggaran. Aku tidak membutuhkan perhatian dan perawatan yang spesial. Dalam kamus kehidupanku, jika kita ingin membuat orang bahagia maka kita harus menciptakan kenyamanan untuknya”, Sandal jepit berkata dengan antusias dan membiarkan sang sepatu terpana.
“Sepatu ! Sahabatku yang terhormat, untuk apa kehebatan kalau sekedar untuk dipamerkan dan menimbulkan efek ketakutan untuk kehilangan. Untuk apa kepandaian dikeluarkan hanya untuk sekedar mendapatkan kekaguman.” Sepatu mulai tersihir oleh ucapan sandal jepit.
“Tapi bukankah menyenangkan jika kita dikagumi banyak orang”, jawab sepatu mencoba mencari pembenar atas posisinya.
Sandal jepit tersenyum dengan bijak “Sahabatku! ditengah kekaguman sesungguhnya kita sedang menciptakan tembok pembeda yang tebal, semakin kita ingin dikagumi maka sesungguhnya kita sedang membangun temboknya”
Dari pintu toko nampak sang pramuniaga tergesa-gesa mengambil sandal jepit karena ingin bersegera mengambil air wudhu. Sambil tersenyum bahagia sandal jepit berbisik kepada sang sepatu “Lihat sahabatku, bahkan untuk berbuat kebaikanpun manusia mengajakku dan meninggalkanmu”
Sepatu menatap kepergian sandal jepit ke mushola dengan penuh kekaguman seraya berbisik perlahan “Terima kasih, engkau telah memberikan pelajaran yang berharga sahabatku, sandal jepit yang terhormat”.
Sumber: Milis Motivasi
Jumat, 14 Agustus 2009
Kisah Sepatu dan Sandal
Diposting oleh Riena Gatut di 08.26 0 komentar
Senin, 17 November 2008
ONH Kita Ternyata Terlalu Murah
Masih banyak umat Islam yang masih menganggap naik haji biayanya terlalu mahal.
Diposting oleh Riena Gatut di 20.16 0 komentar
Selasa, 11 November 2008
HIDAYAHKU SEHARGA Rp 1,6Jt

LABAIKALLAHUMMA LABAIK
‘Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah...’
Ya Allah..
NikmatMU mana lagi yang bisa aku dustakan..
Begitu banyak nikmat dan karunia yang sudah Kau beri untukku dan keluargaku
Terima kasih telah Engkau ijinkan aku dan keluargaku untuk datang lagi kerumah-Mu..
Terima kasih atas semua kemudahan yang telah Engkau beri selama kami menunaikan ibadah umroh awal puasa kemaren, sehingga kami dapat kembali lagi berkumpul dengan keluarga kami dirumah dalam keadaan sehat dan selamat.
Terima kasih juga telah Kau jaga anak-anakku Garin dan Ressa selama kami penuhi panggilan-Mu.
Hanya Engkau AR-RAQIIB, AL-HAFZIIDH, AL MUHAYMIN,AL-MU’MIN, AL WAALY
Jangan pernah Engkau bosan untuk mengundangku dan keluargaku untuk datang kerumahMu, karena sesering apapun Engkau undang kami, tak akan pernah rasa bosan itu datang pada kami.
Tanpa ada niatan apapun selain untuk berbagi dengan sahabat2 yang aku sayangi, ijinkan aku sedikit berbagi cerita soal keberangkatan hajiku di tahun 2005 kemaren.
Sebelum ada keinginanku untuk menunaikan ibadah haji tahun 2005 lalu, rasanya aku biasa-biasa aja tuh saat mendengar kata Talbiyah.Tapi entah kenapa, sejak keinginan berangkat haji begitu menggebu di tahun 2005 itu, kata Talbiyah itu sangat menggetarkan hatiku. Bukan hanya menggetarkan hatiku, tapi juga saat aku mengucapkannya, rasanya tak kuasa kubendung air mataku.
Untuk sahabat2ku ketahui. Aku berangkat haji tanggal 21 Desember 2005, tapi keinginanku untuk berangkat haji baru muncul pada bulan Juli 2005. Jadi antara keinginan dan terwujudnya impianku hanya berselang ±6 bulan. Subhanallah... Allah sangat baik padaku,sehingga semua kemudahan2 selalu diberikannya dalam persiapan keberangkatan hajiku.
Entah berapa kali suami mengajakku untuk menunaikan ibadah haji, dan entah berapa kali juga aku menolaknya. Sempat aku katakan “Sudahlah mas, kalau mau berangkat haji, berangkat aja. Biar aku yang jaga anak2 dirumah.” Yang akhirnya suamiku menyerah dan membuka Tabungan Haji di Bank BNI hanya untuk dia seorang. Kalau mengingat alasanku menolak tawaran berhaji suamiku dulu, rasanya malu sekali aku mengatakannya. Malu mengakui betapa bodohnya aku dan betapa tipisnya keimananku.
Suatu hari suamiku meneleponku dari kantornya dan mengajakku untuk ikut dalam suatu training (saat itu aku nggak tau apa namanya). Setelah dijelaskan baru aku tau ternyata yang suami maksud adalah ESQ yang dimotori Ary Ginanjar Agustian. Dasar perempuan (hehe..) yang pertama kali aku tanyakan adalah “Berapa biayanya mas....?”. Waktu suamiku bilang 1 orang Rp 1.600.000,- aku langsung bilang “Haaahhhh.... mahal banget...!” dan aku langsung bilang “Ya udah, mas Gatut aja yang ikut, aku minta duitnya aja...”. Ya jelas keinginanku ditolak oleh suamiku. Akhirnya dengan terpaksa aku ikuti keinginan suamiku untuk ikut pelatihan ESQ.
Aku bayangin training yang berlangsung 3 hari penuh itu pasti akan sangat membosankanku, membuat aku ngantuk, bla..bla..bla..
Ternyata apa yang aku bayangkan sangat jauh dari kenyataan. Training itu begitu mengesankan. Hari pertama training sudah menyadarkanku akan kebodohhanku selama ini. Paling tidak Training ESQ sudah menyadarkanku akan 2 hal,
Hal Pertama : Training ESQ menyadarkanku bahwa aku adalah ibu yang buruk. Tau kenapa?
Selama ini aku selalu marah2 sama anak2ku kalo mereka malas les ngaji. Padahal kalo mereka tau ibunya gak bisa ngaji & belum khatam Al Qur’an pasti mereka mentertawakan aku.
Alhamdulillah, Allah SWT segera menyadarkan kealpaanku. Selesai training ESQ, waktu ada pembukaan kursus Baca Al Qur’an di Masjid Al Falah, aku & suamiku langsung daftar. Alhamdulillah, kami berdua sekarang udah Khatam Al Qur’an dan sampai sekarang kami masih terdaftar dan ikut aktif sebagai santri di Kursus Ngaji Masjid Al Falah. Sekarang aku sudah di Tartil Khusus IV dan Suamiku di Tartil Khusus II.
Hal Kedua: Training ESQ menyadarkanku bahwa aku adalah orang yang paling bodoh dan yang paling tipis tingkat keimanannya.
Diawal tadi aku udah cerita tentang penolakanku atas ajakan suamiku untuk berhaji. Kalian pingin tau alasannya? Alasan yang cukup bodoh..
“AKU TAKUT MATI”. Bener2 alasan bodoh kan.....??!!
Di training ESQ itu aku baru tersadar (selama ini aku pingsan kali ya..?) bahwa kalau Allah SWT ingin mengambil nyawaku, ya gak harus pas naik haji kalee’.....
Lha wong Allah SWT itu Maha segalanya. Kalau Allah SWT menginginkan saat aku tidur dan tidak pernah terbagun lagi, tentu itu perkara mudah bagiNya. Kalau Allah SWT pingin saat aku enak2 makan ikan di Resto Cianjur terus tertelan durinya terus aku mati, tentu itu perkara kecil bagiNya.
Saat itulah aku segera sadar bahwa perkara mati tidak seorangpun bisa mengelaknya. Jadi gak ada hubungannya naik haji dengan mati. Karena semua sudah ditanganNya.
Di perjalanan pulang training hari Pertama aku langsung bilang ke suamiku, “Kita berangkat haji yuk Pa..”. Tentu saja suamiku seneng banget mendengar kata2ku. Tapi dia bilang “Uangnya belum cukup”. Aku langsung menjawab “Kita jual aja mobil mercy kita”. Dulu aku sangat bangga dengan mobil itu. Mobil yang aku beli dari Papaku dengan diskon gede2an. Hahahaha... Mobil itu meski tahun lama, tapi punya sejarah dalam hidupku. Tapi entahlah, sejak ikut training itu, kebanggaanku atas benda2 menjadi hilang.
Dulu aku begitu gampang terpukau dengan benda yang aku lihat. Lihat mobil mewah atau rumah2 mewah di jalan, langsung berpikir, berapa ya harganya? enak gak ya duduk didalamnya? siapa ya yang punya? sekaya apa ya dia? itulah aku dulu. Aku begitu gampang terpukau dengan benda2 buatan manusia. Aku lupa dengan apa yang aku lewatkan sepanjang hariku ternyata lebih memukau dari itu. Bukankah bumi, matahari,bulan, bintang, awan, tumbuhan, manusia, binatang, semuanya lebih hebat daripada itu?? Tak bisa kubayangkan jika bumi, matahari dan planet2 yang lain sedikit saja keluar dari orbitnya, apa yang bakal terjadi.. Tak bisa kubayangkan jika manusia tanpa air, tumbuhan dan hewan apa yang terjadi.. Allah SWT begitu hebatnya tapi aku sering melupakanNya. Aku sangat menyesali kekagumanku yang salah selama ini. Ampuni aku Ya Allah...
Syarat berangkat haji yang mengatakan ‘Berangkat haji kalau kita mampu’ itu aku tafsirkan dengan keliru.
Dulu aku beranggapan bahwa ‘mampu’ itu adalah jika semua kebutuhan kita sudah terpenuhi. Rumah, mobil, biaya sekolah anak2, asuransi, ....dll. Nah, kalau semua sudah tersedia dan masih ada sisa, baru itu untuk biaya berangkat haji. Tapi aku segera tersadar, kalau nurutin keinginan kita sih gak akan ada selesainya. Keluar model mobil baru, pingin beli. Anak lulus SD butuh biaya untuk SMP setelah itu butuh biaya untuk kuliah, dst.,dst.
Saat itu Aku sudah punya 1 buah rumah yang menaungi keluargaku dari panas dan hujan meskipun tidak seperti rumah2 mewah di perumahan Citraland itu, temboknya penuh coretan2 tangan anakku, lantai garasi retak semua karena termakan usia, 1 buah rumah kos yang kami sewakan meskipun catnya sudah banyak yang pudar karena perlu dicat ulang, 2 mobil (yang 1 pinjaman dari perusahaan keluarga) , juga penghasilan suami yang cukup untuk kebutuhan sehari2. Jadi, kriteria mampu mana lagi yang masih aku harapkan.
Aku baru tersadar bahwa ternyata aku sebenarnya sudah masuk dalam kriteria mampu. Jadi apa lagi yang harus aku tunggu.
Kalau dipikir ternyata Allah itu sudah memanggilku untuk datang kerumahNya berkali2 .. tapi telingaku tidak cukup peka untuk mendengar panggilanNya. Bersyukur Allah segera membukakan telingaku untuk dapat mendengar panggilanNya.
Pulang Training ESQ hari terakhir, aku diundang saudara (Wiwit & Henny) untuk acara perpisahan karena dia & keluarganya akan pindah ke philipina karena tugas dari Philip perusahaannya (untuk alumni bhawikarsu pasti kalian tau Wiwit yang aku maksud adalah Wahyu Adi sepupuku) , sekalian acara syukuran karena dia akan berangkat haji tahun itu. Waktu ketemu aku bilang sama istrinya“Enak ya Hen, kamu bisa berangkat haji”. Dia bilang “Kalo kamu mau, yang haji+ masih buka pendaftaran”. Aku ya setengah gak percaya, karena waktu keberangkatan kurang 6 bulan lagi. Besoknya aku iseng telepon biro perjalanan haji referensi Mamaku. Waktu itu dia bilang jatah travel dia udah abis, tapi dia bisa mengusahakan. Besoknya aku ma suami ke travelnya untuk mendapat keterangan detailnya. Pegawainya bilang “Daftar aja bu, cuman butuh fotocopy KTP”. Lha karena kita belum punya duit ya aku bilang “Duitnya belum ada mas.., soalnya mobilnya belum laku”. Dia bilang gak papa, yang penting daftar dulu aja. Ya akhirnya berbekal ‘nekad’ dan semangat aku & suami ninggal fotocopy KTP. Sampai dirumah bingung, gimana dapat uang dengan cepat.Lha mobilku waktu itu Mercy C200 th 96. Gak mudah menjual mobil eropa.
Besoknya langsung aku masukin iklan. Tiap sholat aku selalu mohon pada Allah “Ya Allah, kalau memang Kau panggil aku dan suamiku untuk datang kerumahMu, bantu kami untuk menjual mobil kami Ya Allah..., Mudahkan jalan kami...”.
Hari pertama, mobil ada yang lihat abis maghrib harga gak cocok,
Hari kedua ada yang liat abis maghrib gak nawar.
Hari ketiga ada yang liat abis maghrib juga, dia nawar, tapi belum kami kasih. Tapi karena dia terlanjur suka sama mobil kami akhirnya kami sepakat dia naik & kami turun harga.
Alhamdulillah... akhirnya terjuallah mobil kami. Setelah dibayar pembeli, langsung kami bayar lunas ONH kami.
Setelah ONH kami terbayar lunas, baru kami sampaikan niat kami pada kedua orang orangtua ku dan kedua mertuaku. Sambutan mereka sungguh sangat baik. Insya Allah berkat doa mereka jugalah kami bisa menyelesaikan ibadah haji kami dan kembali kerumah dalam keadaan sehat dan selamat.
Tidak semua saudara2 kami menyambut baik niatku & suamiku untuk berangkat haji. Beberapa dari mereka ada yang berkomentar, ngapain berangkat haji sekarang, wong masih muda. Aku sih senyum2 aja, sambil ngomong dalam hati “emangnya siapa yang berani nanggung kita bisa tetep hidup sampai tua?”
Persiapan berangkat haji kamipun berjalan lancar meskipun ada beberapa hal kecil yang perlu pemikiran tentang siapa yang menjaga anak2 kami selama kami berangkat haji. Tapi aku & suamiku sangat yakin bahwa Allah SWT Maha Penjaga. Dia yang akan menjaga mereka selama kami memenuhi panggilanNya.
Mendekati kepulangan haji kami, anakku kedua dan ketiga secara bergantian masuk Rumah Sakit karena kena Demam Berdarah. Sepulang dari bandara kami sempatkam mampir ke masjid dekat rumah untuk sujud syukur, mampir kerumah sebentar langsung ke Rumah Sakit untuk melihat anak kedua kami yang masih opname disana. Untuk orang2 yang tidak setuju dengan keberangkatan haji kami mungkin mereka berfikir “Tuh kan, anaknya ditinggal lama, sampai masuk rumah sakit..” (maafkan aku Ya Allah kalau aku terlalu berprasangka). Tapi aku sungguh bersyukur dan berprasangka baik pada Allah. Allah begitu baik padaku & suamiku, sehingga kalaupun aku diberi cobaan dengan sakitnya kedua anakku tapi dia memberi cobaan itu pada saat aku hampir selesai menunaikan ibadah haji kami. Coba kalau cobaan itu datang pada saat kami akan berangkat haji, mungkin itu akan sangat mengganggu kosentrasi kami selama beribadah.
Allah Maha Baik.. Tak sedikitpun aku mengingkarinya...
Aku disini tidak lagi promosi Training ESQ lho... Aku juga gak tau, dari sekitar 200 orang yang ikut training itu, berapa dari mereka yang tersadar atas segala kealpaannya selama ini... Bisa jadi seluruhnya, separonya atau mungkin cuman aku satu2nya. Disini aku cuman mo bilang, Hidayah Allah SWT bisa datang pada siapa aja, kapan aja dan dengan cara apa aja. Mungkin kalo bisa dibilang, Hidayah yang aku terima dari Allah SWT ya dari ngikut Training ESQ itu , dimana yang dulunya aku anti untuk berhaji menjadi ingin segera berangkat haji. Sungguh harga hidayah yang sangat murah. Hanya dengan Rp 1,6jt, telah menyadarkanku akan kebodohan2ku selama ini. Akupun tak lupa bersyukur, mendapat suami yang begitu baik, yang telah mengajakku menuju hidayahNya. Coba saat itu suamiku gak ngajak training ESQ, pasti sekarang aku cuman hanya bisa mendengar cerita tentang Kabah, Raudah, Jabal Rahmah, Jabal Uhud, Masjid Quba, dll. dari cerita orang2 yang sudah pernah kesana. Alhamdulillah, ternyata aku bisa langsung dengan mata kepalaku sendiri melihat Kabah yang selama 5 kali sehari kita sholat menghadapnya. Jarikupun bisa langsung menyentuh Kiswah yang menutupinya. Apapun itu, aku percaya bahwa emang itu udah diatur olehNYA.
Pertama kali aku lihat Kabah, aku menangis. Campur aduk, antara senang, terharu, takjub,.... Rasa tak percaya aku sudah didepan Kabah, tempat dimana kita selalu menghadap saat kita Sholat. Yang jelas aku menangis karena bersyukur, karena aku termasuk satu dari jutaan tamu Allah yang berhaji tahun itu. Aku bersyukur, meskipun aku jauh dari sebutan perempuan sholeha, tapi Allah begitu menyayangiku sehingga memasukkan aku dalam daftar undanganNya untuk datang kerumahNya.
Alhamdulillah... NikmatMu sungguh tak terhingga.
Salah seorang sahabatku (m’Diah) gak percaya bercampur seneng saat dia ulang tahun di pertengahan Agustus 2005 aku bilang “Insya Allah aku berangkat haji tahun ini mbak..”.
Dia bilang, ini kado terindah dari aku untuk dia katanya. Lhah..??!
Emang m’Diah itu orangnya lugu & lucu, wong aku yang seneng karena mo berangkat haji kok cuman karena denger niatku berhaji aja udah dia bilang itu kado terindah untuk dia. Hehehe...
Apapun, thanks ya m’Diah yang baik hati & tidak sombong...
m’Diah selalu jadi penyemangatku untuk urusan2 beginian.
I’m glad we’re friend Prof..
Dia yang selama ini selalu gak capek2 ngingetin aku untuk berangkat haji, dan dengan becanda selalu aku jawab ‘Ntar aja deh mbak.., biar suamiku dulu aja yang berangkat.” Terakhir ngobrol kira-kira 1 bulan sebelum kuputuskan berangkat haji, akupun masih menolak saat m’Diah menyuruhku untuk berhaji.
Waktu menunaikan ibadah haji itu juga aku bertemu sahabatku Aik. Gimana aku pertama kenal dia, udah aku tulis di blogku juga.
http://rienagatut.blogspot.com/2008/05/met-menunaikan-ibadah-umroh-ya-ik.html
Meskipun orangnya cuek minta ampun, tetapi aku akui, dia begitu banyak memberi inspirasi aku tentang bagaimana cara berbuat kebaikan pada sesama dan bagaimana cara membahagiakan orang2 yang kita cintai. Thanks ya ik...
Yah, kalo diinget jalan hidupku, rasanya tak ada sedikitpun nikmatNya yang bisa aku dustakan. Aku dikelilingi oleh orang2 yang begitu menyayangiku, mulai dari orang tua dan mertua yang begitu menyayangi kami, suamiku yang sangat perhatian dan sayang padaku dan anak2 kami, anak2ku Laras, Garin dan Ressa yang sehat & lucu, juga sahabat2 yang selalu mengingatkanku akan kebaikan.
Terima kasih Ya Allah...
Nikmat dan KaruniaMu sungguh tak terhingga..
Ampuni aku kalau kadang aku lupa untuk mensyukurinya
Jangan karenanya Engkau menjadi murka padaku Ya Allah..
Jadikan aku, keluargaku dan keturunan2ku menjadi hambaMu yang pandai mensyukuri semua nikmat dan karuniaMu
Nah sahabat2ku, itulah sedikit latar belakang keberangkatan hajiku di tahun 2005 lalu. Mohon maaf jika ada kata2 dari ceritaku ini yang kurang berkenan dihati. Mungkin juga alur ceritaku yang morat-marit. Mohon maklum, karena aku bukan seorang penulis novel. Tidak ada niatan lain dari apa yang aku ceritakan kecuali ingin berbagi cerita dengan kalian, sahabat2ku yang aku cintai. Semoga kalianpun dapat segera berangkat untuk memenuhi undanganNya. Karena tanpa kita sadari sebetulnya undangan itu sudah Allah sampaikan kepada kita, cuman telinga kita mungkin kurang peka untuk mendengar panggilanNya.
LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK
LABBAIKA LA SYARIKA LAKA LABBAIK
INNAL HAMDA WA NIKMATA LAKA WAL-MULKA
LAA SYARII KA LAK
"Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah,
Aku datang memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya,
Ya Allah aku penuhi panggilanMu.
Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata.
Segenap kerajaan untukMu.
Tidak ada sekutu bagiMu"
Allah Yang Maha Memberi rezeki, yang Memiliki kekuatan akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.
Diposting oleh Riena Gatut di 11.01 1 komentar
Jumat, 29 Agustus 2008
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)
Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)
Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:
... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)
Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Menyambut Bulan Suci Ramadhan, saya beserta keluarga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila ada salah ucap, salah perbuatan serta kelalaian kami yang mungkin menyakiti hati teman2 semua.
Semoga kita dapat menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan ini dengan hati yang bersih dan semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
Amin Allahumma Amin.
Diposting oleh Riena Gatut di 21.02 0 komentar
Rabu, 28 Mei 2008
Mengapa kita harus membaca Alquran ?
Ditulis pada Nopember 20, 2007 oleh sigit setiawan
Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Al Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, “Kakek! Aku mencoba untuk membaca Al Qur’An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Al Qur’An?
Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, “Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.” Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.
Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, “Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup, maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.
Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, ” Lihat Kek, percuma!” “Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.
Kakek berkata, “Lihatlah keranjangnya.” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. “Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Al Qur’An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.”
Diposting oleh Riena Gatut di 20.58 0 komentar
Ketika Derita Mengabadikan Cinta
"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk
kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr.
Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo
dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf
terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua
mempelai. Kepada Professor dipersilahkan..."
Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan
resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di
tepi sungai Nil, Kairo.
Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan
disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-
nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan
dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering
nongol di televisi itu.
Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih
melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya
memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa
ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan
kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium,
kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat
sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...
Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma
ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat
lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada
kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan
bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai
harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya.
harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan
Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah
mutiaranya dan buanglah lumpurnya.
Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,
melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan
kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu ...
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan
menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi,
keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah
terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di
Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang
memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik
di negeri ini.
Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup
dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan
hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat.
Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan
aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!
Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini.
Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang
didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya
cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman
dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan
perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka
menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial
keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat
dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun
saya tidak peduli.
Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu
mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah
dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke
luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya.
Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan
keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza
yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.
Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah.
Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil
biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para
dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.
"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas
ayah.
Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah
habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di
hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.
Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang
penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan,
kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya
menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan
tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis
yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.
Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa
telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk
menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu
ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi
di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua
menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan
yang lurus.
Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan
hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu,
dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan,
kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam
memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu
saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan
membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum:
Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!
Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan
dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak
saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin
yang tak terkira.
Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang
cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan
dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki
sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya
dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi
yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia
lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun
dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.
Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri
sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya
membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui.
Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya
sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada
perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di
jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-
jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili
pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui
dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah
menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah
dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu
yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga
besar Al Ganzouri."
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan
ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda
kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah
dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.
Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan
hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan
pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-
apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci
yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.
Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya.
Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,
dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la
haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau
setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-
mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau
menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya
sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.
Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak
pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan
keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.
Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan
bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?
Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri
penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke
kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang
sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun
untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab
imam Hanafi.
Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya
terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan
mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam
Abu Hanifah."
Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata
3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah
itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah
di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar
menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum
berakhir.
Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah
kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan
mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari
rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari
rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa
potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang
saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.
Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih
tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang
sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound
atau 2 dolar!!!
Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua
bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan
Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa
cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya
saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan
jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup
menjalari sukma kami.
"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti
ini. Maafkan Kanda!"
"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita
telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak
bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir
anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan
tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita
tempuh ini.
Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama
kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan
buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan
keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita
ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan
mereka akan menangis haru.
Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita
kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.
Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah
rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika.
Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi
dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan
menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.
Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk
di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa.
Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak
mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang
juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah
toko selama 24 jam.
Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman
sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala
kadarnya yang murah.
Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan
kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus
mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta,
kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.
Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami
berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra
Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin
dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan
mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus
dari rumah kontrakan kami.
Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu,
jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia
bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah
sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang
jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari
25 pound saja untuk 3 bulan.
Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu
kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih
dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu
kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua
cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.
Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa
tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini
kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta?
Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-
orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah
menjanjikan cinta.
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya
persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah
untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah
di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh
lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa
dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh
Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya.
Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah
SWT.
Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an
dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang
berhak memperoleh segala cinta di surga.
Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus
mendekatkan diri kepada-Nya.
Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan
tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah
Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu
siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia
memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad
untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia
juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa
sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup
untuk makan dan transportasi selama sebulan.
Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan
kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan
dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-
sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter
itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara
seperti Mamduh dan isterinya."
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi
nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan
kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri
agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami
memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada
yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan
pertolongan-pertolongan mereka.
Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan
yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan
tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami.
Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.
Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami
digedor dan didobrak oleh 4 ..::makhluk yang lucu::.. kiriman ayah
saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-
satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur
tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam
dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan
ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan
Pasha."
Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala
itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat ..::makhluk yang
lucu::.. itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi
nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang
hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami
masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek
tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan
kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur
kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman
inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi
hidup ini.
Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup
tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah
merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan
tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen
militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan
undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah
total kepada Allah mendengar hal itu.
Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak
mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman
karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil
membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk
bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu
terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa
berbuat lebih nekad.
Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil
meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai
isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu,
sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara
saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.
Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu
tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya
takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6
pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang
sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur
karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.
Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hamba-Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia
mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah
kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan
rahmat Allah SWT.
Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu
kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan
keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang
putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya
teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup
bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:
Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku... besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung
Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari
nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta.
Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras
untuk masuk program Magister bersama!
"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah
saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari
pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan
keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh
untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:
"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat
tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya,
kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian
cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa
tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita
sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah
kita."
Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku
pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran
dan kekuatan jiwanya.
Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami
memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan,
sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek,
buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan
roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari
awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut
kosong, teman setia kami adalah air keran.
Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama
dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami
obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa
uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.
Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan
itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.
Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah
menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri
saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab.
Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi
dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan
saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup
sengsara layaknya gelandangan.
Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang
asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di
rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.
Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang
luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan
rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.
Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya
adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya
dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan,
dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh
cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan
terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di
dunia ini.
"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra
sambil tersenyum.
Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.
Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih
gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja!
Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister
pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada
istilah makan enak dalam hidup kami.
Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami
berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan
untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka,
kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang
mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal
masakan lezat.
Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir
setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia
kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program
Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:
"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita
lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar
Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak
ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil
merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah
menyediakan dana tambahan."
Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol
gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya
spesialis jantung.
Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak
kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya
diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai
wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.
Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai
dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam
suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.
Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah
sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali
laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling
dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah
lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.
Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah
swt dan bertambahlan rasa cinta kami.
Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika
hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan
mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak
pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka
lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum
ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah
istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa
mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."
Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok
perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru.
Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga
merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru
kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini
dengan seksama.
Dari milis Airputih (airputih@yahoogroups.com)
Diposting oleh Riena Gatut di 20.54 0 komentar
Tangisan Untuk Adikku
Aku dilahirkan disebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari orang tua ku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Ayah mencintaiku lebih daripada aku mencintainya.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku, ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut didepan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi beliau mengatakan, “Baiklah kalau begitu kalian berdua layak dipukuli!”.
Dia mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi. tiba-tiba, adikku mencengkramnya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk diatas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal apa lagi yang akan kamu lakukan dimasa mendatang? Kamu layak dipukuli sampai mati! Kamu pencuri tidak tau malu!”.
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikan air mata seteres pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk meju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tudak akan pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu adikku berusia 8 tahu dan Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhir di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk kesebuah provinsi. MAlam itu ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengar memberenggut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”
Saat itu juga, adikku berjalan keluar kedhadapan ayah dan berkata, “Ayah, Saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika Bearti saya mesti mengemis di jalan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah didusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa kemuka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak ia tidak akan meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, Sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap kesamping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas diatas bantalku. “Kak, masuk ke universitas itu tidak mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”
Aku memegang kertas tersebut diatas tempat tidurku, dan menangis dengan airmata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya dilokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ketahun ketiga. Suatu hari, aku sedang belajar dikamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar diluar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang kepada teman sekamarku kalau kamu adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? apa mereka tidak akan menertawakanmu?” aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dengan kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya ia mengeluarkan jepit rambut berbentuk kupu-kupu. ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat gadis kota memakainya, jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku kedalam pelikanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku kerumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih dimana-mana, setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil didepan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? ia teluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”
Aku masuk kedalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, serarus jarum terasa menusukku Aku mengolesi sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu ketika saya bekerja dikontruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku untuk bekerja dan.”
Ditengah kalimat itu dia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun kewajahku. Tahun itu adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika Aku menikah, aku tinggal banyak dikota. Banyak kali Suamiku dan aku mengundang oarang tuakuuntuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah disini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. tetapi adikku menolak tawaran tersebut. ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapatkan sengatan listrik, dan masuk rumah sakit Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putihpada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menololak jadi manager? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. mengapa kamu tidak mau mrndengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar ia baru saja menjadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita apa yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepata-patah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kamu kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat, “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi kesekolah dan pulang kerumah. Suatu hari, Saya kehilangan sati dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba dirumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, “Dalam hidupku, Orang yang paling aku berterimakasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling bahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. (Dari “i Cried for My brother six times-swaramer)
Cerita ini diambil dari sebuah e-book kumpulan cerita motivasi
judul : Motivasi net
oleh : Ir. Andi Muzaki,SH,MT.
cat : Bila ada kebaikan dalam cerita ini maka ambillah kebaikan tersebut dan bila ada keburukan dalam ceriata ini buang dan tinggalkanlah keburukan tersebut. Semoga kita mendapatkan hikmah dari cerita tersebut.
Diposting oleh Riena Gatut di 20.45 0 komentar
Label: Motivasi/Inspirasi


