CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Senin, 17 November 2008

ONH Kita Ternyata Terlalu Murah





Masih banyak umat Islam yang masih menganggap naik haji biayanya terlalu mahal.
Sebagian lagi merasa tidak mungkin untuk mengumpulkan uang sebanyak sekitar Rp. 30 juta (perkiraan biaya naik haji tahun 2005), padahal Allah telah berjanji bahwa barang siapa yang ikhlas berniat menuju kebaikan maka Allah akan memudahkan jalannya menuju kepada wujudnya niat tersebut.
Menabung Rp. 100 ribu setiap bulannya secara ikhlas dan tawakal bisa jadi dalam waktu 1 – 2 tahun Allah akan melengkapi sisa kekurangannya dari sumber yang tak disangka-sangkanya. Bahkan ketika kita akhirnya ditakdirkan wafat sebelum berhaji sedang niat ikhlas telah dicanangkan maka insya Allah kita disamakan dengan orang yang telah berhaji.
Insya Allah dengan tulisan dibawah ini bagi yang belum berhaji bisa semakin memantapkan niatnya untuk berhaji. Kita semua mengetahui bahwa ibadah yang dilakukan oleh seseorang di Masjidil Haram, Mekah, nilainya sama dengan seratus ribu kalinya ibadah yang dilakukan di tempat yang lain. Sedangkan ibadah yang dilakukan di masjid Nabawi, Madinah alMunawarah, nilainya sama dengan seribu kalinya ibadah di tempat lain. Dengan memahami nilai ibadah yang luar biasa itu, maka tentu orang-orang yang mengeluarkan Ongkos Naik Haji (ONH) untuk pergi kesana itu tidak akan rugi kalau dibandingkan dengan pahala yang didapatkannya.
Dengan mengambil 'angka' tersebut sebagai pedoman, maka dapat kita hitung sbb:
- Beribadah terus menerus di Mekah selama 1 hari, sama dengan beribadah di Indonesia selama 100.000 X 1 hari = 100.000 hari.
- Beribadah di Madinah selama 1 hari, berarti sama dengan beribadah di tanah air selama : 1.000 X 1 hari = 1.000 hari.
Maka dalam waktu musim haji selama empat puluh hari di tanah suci (30 hari di Mekah, 10 hari di Madinah ), pahala yang didapat oleh para jamaah haji kalau dibandingkan dengan pahala jika ia berada di Indonesia, ia harus hidup selama : 3.010.000 hari.
Atau harus bisa hidup dalam waktu : 8.361 tahun, 1 bulan, 9 hari, 14 jam.
Sekarang pertanyaannya, untuk bisa hidup selama itu, berapakah biaya hidup yang harus dikeluarkannya? Sekedar untuk ilustrasi agar kita semakin ‘berkeinginan’ untuk pergi melakukan ibadah haji, kita hitung berapa besarnya biaya hidup untuk mencapai pahala tanah suci. Misal, untuk biaya hidup di Indonesia kita ambil biaya rata-rata perhari : Rp. 15.000,-( lima betas ribu rupiah). Dengan rincian : untuk keperluan makan pagi, makan siang dan makan malam, plus lain-lain : @ Rp.5000,- Maka untuk mendapatkan pahala seperti di tanah Haram selama 40 hari, besarnya biaya yang harus dikeluarkan, adalah :
3.010.000 hari X Rp. 15.000,- = Rp 45.150.000.000,- (Rp. 45,15 Milyar )
Sungguh luar biasa!
Andaikata saat ini pengeluaran untuk ONH, dan lain-lain, mencapai tiga puluh juta rupiah, sungguh nilai itu amat sangat kecil jika dibandingkan dengan pahala yang akan dicapainya. Sebab seolah-olah ia mendapatkan uang sebesar empat puluh lima milyar rupiah lebih. Itu adalah nilai minimal, dengan anggapan bahwa biaya per hari sebesar lima belas ribu rupiah.
Kalaulah ada seseorang yang punya uang sebesar empat puluh lima milyar rupiah, iapun tidak akan bisa mencapai pahala seperti di tanah suci. Sebab pahala shalat tidak bisa dirangkap. Shalat subuh tidak mungkin bisa dirangkap dengan waktu subuh berikutnya. dst. Artinya seseorang harus mampu hidup selama 3.010.000 hari atau sekitar 8.361 (delapan ribu tiga ratus enampuluh satu tahun). Dan tentu hal itu mustahil dilakukannya.Itu semua kalau ibadah haji dikaitkan dengan pahala. Padahal yang lebih besar dari ‘sekedar pahala adalah hajjan mabruura' yaitu haji yang diterima oleh Allah Swt. Karena tak ada balasan bagi haji yang diterima, kecuali surga, yang keindahannya tak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Aku sediakan bagi hamba-hambaKu yang shalih, sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati.” (Hadits Qudsi, Bukhan; Muslim)
Mudah-mudahan dengan mengetahuinya perhitungan sederhana tentang pahala haji tersebut, banyak di antara pembaca yang semakin rindu untuk pergi ke tanah suci....bukan sekedar karena pahalanya,...tetapi karena kerinduannya ingin `bertemu' dengan Allah Swt, Pemilik Alam Raya ini.
Sumber : Dahlia Putri, dengan sedikit edit dari Penjaga Kebun

Selasa, 11 November 2008

HIDAYAHKU SEHARGA Rp 1,6Jt



LABAIKALLAHUMMA LABAIK
‘Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah...’

Ya Allah..
NikmatMU mana lagi yang bisa aku dustakan..
Begitu banyak nikmat dan karunia yang sudah Kau beri untukku dan keluargaku
Terima kasih telah Engkau ijinkan aku dan keluargaku untuk datang lagi kerumah-Mu..
Terima kasih atas semua kemudahan yang telah Engkau beri selama kami menunaikan ibadah umroh awal puasa kemaren, sehingga kami dapat kembali lagi berkumpul dengan keluarga kami dirumah dalam keadaan sehat dan selamat.
Terima kasih juga telah Kau jaga anak-anakku Garin dan Ressa selama kami penuhi panggilan-Mu.

Hanya Engkau AR-RAQIIB, AL-HAFZIIDH, AL MUHAYMIN,AL-MU’MIN, AL WAALY
Jangan pernah Engkau bosan untuk mengundangku dan keluargaku untuk datang kerumahMu, karena sesering apapun Engkau undang kami, tak akan pernah rasa bosan itu datang pada kami.

Tanpa ada niatan apapun selain untuk berbagi dengan sahabat2 yang aku sayangi, ijinkan aku sedikit berbagi cerita soal keberangkatan hajiku di tahun 2005 kemaren.

Sebelum ada keinginanku untuk menunaikan ibadah haji tahun 2005 lalu, rasanya aku biasa-biasa aja tuh saat mendengar kata Talbiyah.Tapi entah kenapa, sejak keinginan berangkat haji begitu menggebu di tahun 2005 itu, kata Talbiyah itu sangat menggetarkan hatiku. Bukan hanya menggetarkan hatiku, tapi juga saat aku mengucapkannya, rasanya tak kuasa kubendung air mataku.

Untuk sahabat2ku ketahui. Aku berangkat haji tanggal 21 Desember 2005, tapi keinginanku untuk berangkat haji baru muncul pada bulan Juli 2005. Jadi antara keinginan dan terwujudnya impianku hanya berselang ±6 bulan. Subhanallah... Allah sangat baik padaku,sehingga semua kemudahan2 selalu diberikannya dalam persiapan keberangkatan hajiku.

Entah berapa kali suami mengajakku untuk menunaikan ibadah haji, dan entah berapa kali juga aku menolaknya. Sempat aku katakan “Sudahlah mas, kalau mau berangkat haji, berangkat aja. Biar aku yang jaga anak2 dirumah.” Yang akhirnya suamiku menyerah dan membuka Tabungan Haji di Bank BNI hanya untuk dia seorang. Kalau mengingat alasanku menolak tawaran berhaji suamiku dulu, rasanya malu sekali aku mengatakannya. Malu mengakui betapa bodohnya aku dan betapa tipisnya keimananku.

Suatu hari suamiku meneleponku dari kantornya dan mengajakku untuk ikut dalam suatu training (saat itu aku nggak tau apa namanya). Setelah dijelaskan baru aku tau ternyata yang suami maksud adalah ESQ yang dimotori Ary Ginanjar Agustian. Dasar perempuan (hehe..) yang pertama kali aku tanyakan adalah “Berapa biayanya mas....?”. Waktu suamiku bilang 1 orang Rp 1.600.000,- aku langsung bilang “Haaahhhh.... mahal banget...!” dan aku langsung bilang “Ya udah, mas Gatut aja yang ikut, aku minta duitnya aja...”. Ya jelas keinginanku ditolak oleh suamiku. Akhirnya dengan terpaksa aku ikuti keinginan suamiku untuk ikut pelatihan ESQ.

Aku bayangin training yang berlangsung 3 hari penuh itu pasti akan sangat membosankanku, membuat aku ngantuk, bla..bla..bla..
Ternyata apa yang aku bayangkan sangat jauh dari kenyataan. Training itu begitu mengesankan. Hari pertama training sudah menyadarkanku akan kebodohhanku selama ini. Paling tidak Training ESQ sudah menyadarkanku akan 2 hal,

Hal Pertama : Training ESQ menyadarkanku bahwa aku adalah ibu yang buruk. Tau kenapa?
Selama ini aku selalu marah2 sama anak2ku kalo mereka malas les ngaji. Padahal kalo mereka tau ibunya gak bisa ngaji & belum khatam Al Qur’an pasti mereka mentertawakan aku.
Alhamdulillah, Allah SWT segera menyadarkan kealpaanku. Selesai training ESQ, waktu ada pembukaan kursus Baca Al Qur’an di Masjid Al Falah, aku & suamiku langsung daftar. Alhamdulillah, kami berdua sekarang udah Khatam Al Qur’an dan sampai sekarang kami masih terdaftar dan ikut aktif sebagai santri di Kursus Ngaji Masjid Al Falah. Sekarang aku sudah di Tartil Khusus IV dan Suamiku di Tartil Khusus II.

Hal Kedua: Training ESQ menyadarkanku bahwa aku adalah orang yang paling bodoh dan yang paling tipis tingkat keimanannya.
Diawal tadi aku udah cerita tentang penolakanku atas ajakan suamiku untuk berhaji. Kalian pingin tau alasannya? Alasan yang cukup bodoh..

“AKU TAKUT MATI”. Bener2 alasan bodoh kan.....??!!

Di training ESQ itu aku baru tersadar (selama ini aku pingsan kali ya..?) bahwa kalau Allah SWT ingin mengambil nyawaku, ya gak harus pas naik haji kalee’.....

Lha wong Allah SWT itu Maha segalanya. Kalau Allah SWT menginginkan saat aku tidur dan tidak pernah terbagun lagi, tentu itu perkara mudah bagiNya. Kalau Allah SWT pingin saat aku enak2 makan ikan di Resto Cianjur terus tertelan durinya terus aku mati, tentu itu perkara kecil bagiNya.

Saat itulah aku segera sadar bahwa perkara mati tidak seorangpun bisa mengelaknya. Jadi gak ada hubungannya naik haji dengan mati. Karena semua sudah ditanganNya.

Di perjalanan pulang training hari Pertama aku langsung bilang ke suamiku, “Kita berangkat haji yuk Pa..”. Tentu saja suamiku seneng banget mendengar kata2ku. Tapi dia bilang “Uangnya belum cukup”. Aku langsung menjawab “Kita jual aja mobil mercy kita”. Dulu aku sangat bangga dengan mobil itu. Mobil yang aku beli dari Papaku dengan diskon gede2an. Hahahaha... Mobil itu meski tahun lama, tapi punya sejarah dalam hidupku. Tapi entahlah, sejak ikut training itu, kebanggaanku atas benda2 menjadi hilang.

Dulu aku begitu gampang terpukau dengan benda yang aku lihat. Lihat mobil mewah atau rumah2 mewah di jalan, langsung berpikir, berapa ya harganya? enak gak ya duduk didalamnya? siapa ya yang punya? sekaya apa ya dia? itulah aku dulu. Aku begitu gampang terpukau dengan benda2 buatan manusia. Aku lupa dengan apa yang aku lewatkan sepanjang hariku ternyata lebih memukau dari itu. Bukankah bumi, matahari,bulan, bintang, awan, tumbuhan, manusia, binatang, semuanya lebih hebat daripada itu?? Tak bisa kubayangkan jika bumi, matahari dan planet2 yang lain sedikit saja keluar dari orbitnya, apa yang bakal terjadi.. Tak bisa kubayangkan jika manusia tanpa air, tumbuhan dan hewan apa yang terjadi.. Allah SWT begitu hebatnya tapi aku sering melupakanNya. Aku sangat menyesali kekagumanku yang salah selama ini. Ampuni aku Ya Allah...

Syarat berangkat haji yang mengatakan ‘Berangkat haji kalau kita mampu’ itu aku tafsirkan dengan keliru.
Dulu aku beranggapan bahwa ‘mampu’ itu adalah jika semua kebutuhan kita sudah terpenuhi. Rumah, mobil, biaya sekolah anak2, asuransi, ....dll. Nah, kalau semua sudah tersedia dan masih ada sisa, baru itu untuk biaya berangkat haji. Tapi aku segera tersadar, kalau nurutin keinginan kita sih gak akan ada selesainya. Keluar model mobil baru, pingin beli. Anak lulus SD butuh biaya untuk SMP setelah itu butuh biaya untuk kuliah, dst.,dst.
Saat itu Aku sudah punya 1 buah rumah yang menaungi keluargaku dari panas dan hujan meskipun tidak seperti rumah2 mewah di perumahan Citraland itu, temboknya penuh coretan2 tangan anakku, lantai garasi retak semua karena termakan usia, 1 buah rumah kos yang kami sewakan meskipun catnya sudah banyak yang pudar karena perlu dicat ulang, 2 mobil (yang 1 pinjaman dari perusahaan keluarga) , juga penghasilan suami yang cukup untuk kebutuhan sehari2. Jadi, kriteria mampu mana lagi yang masih aku harapkan.

Aku baru tersadar bahwa ternyata aku sebenarnya sudah masuk dalam kriteria mampu. Jadi apa lagi yang harus aku tunggu.
Kalau dipikir ternyata Allah itu sudah memanggilku untuk datang kerumahNya berkali2 .. tapi telingaku tidak cukup peka untuk mendengar panggilanNya. Bersyukur Allah segera membukakan telingaku untuk dapat mendengar panggilanNya.

Pulang Training ESQ hari terakhir, aku diundang saudara (Wiwit & Henny) untuk acara perpisahan karena dia & keluarganya akan pindah ke philipina karena tugas dari Philip perusahaannya (untuk alumni bhawikarsu pasti kalian tau Wiwit yang aku maksud adalah Wahyu Adi sepupuku) , sekalian acara syukuran karena dia akan berangkat haji tahun itu. Waktu ketemu aku bilang sama istrinya“Enak ya Hen, kamu bisa berangkat haji”. Dia bilang “Kalo kamu mau, yang haji+ masih buka pendaftaran”. Aku ya setengah gak percaya, karena waktu keberangkatan kurang 6 bulan lagi. Besoknya aku iseng telepon biro perjalanan haji referensi Mamaku. Waktu itu dia bilang jatah travel dia udah abis, tapi dia bisa mengusahakan. Besoknya aku ma suami ke travelnya untuk mendapat keterangan detailnya. Pegawainya bilang “Daftar aja bu, cuman butuh fotocopy KTP”. Lha karena kita belum punya duit ya aku bilang “Duitnya belum ada mas.., soalnya mobilnya belum laku”. Dia bilang gak papa, yang penting daftar dulu aja. Ya akhirnya berbekal ‘nekad’ dan semangat aku & suami ninggal fotocopy KTP. Sampai dirumah bingung, gimana dapat uang dengan cepat.Lha mobilku waktu itu Mercy C200 th 96. Gak mudah menjual mobil eropa.

Besoknya langsung aku masukin iklan. Tiap sholat aku selalu mohon pada Allah “Ya Allah, kalau memang Kau panggil aku dan suamiku untuk datang kerumahMu, bantu kami untuk menjual mobil kami Ya Allah..., Mudahkan jalan kami...”.
Hari pertama, mobil ada yang lihat abis maghrib harga gak cocok,
Hari kedua ada yang liat abis maghrib gak nawar.
Hari ketiga ada yang liat abis maghrib juga, dia nawar, tapi belum kami kasih. Tapi karena dia terlanjur suka sama mobil kami akhirnya kami sepakat dia naik & kami turun harga.

Alhamdulillah... akhirnya terjuallah mobil kami. Setelah dibayar pembeli, langsung kami bayar lunas ONH kami.
Setelah ONH kami terbayar lunas, baru kami sampaikan niat kami pada kedua orang orangtua ku dan kedua mertuaku. Sambutan mereka sungguh sangat baik. Insya Allah berkat doa mereka jugalah kami bisa menyelesaikan ibadah haji kami dan kembali kerumah dalam keadaan sehat dan selamat.

Tidak semua saudara2 kami menyambut baik niatku & suamiku untuk berangkat haji. Beberapa dari mereka ada yang berkomentar, ngapain berangkat haji sekarang, wong masih muda. Aku sih senyum2 aja, sambil ngomong dalam hati “emangnya siapa yang berani nanggung kita bisa tetep hidup sampai tua?”

Persiapan berangkat haji kamipun berjalan lancar meskipun ada beberapa hal kecil yang perlu pemikiran tentang siapa yang menjaga anak2 kami selama kami berangkat haji. Tapi aku & suamiku sangat yakin bahwa Allah SWT Maha Penjaga. Dia yang akan menjaga mereka selama kami memenuhi panggilanNya.

Mendekati kepulangan haji kami, anakku kedua dan ketiga secara bergantian masuk Rumah Sakit karena kena Demam Berdarah. Sepulang dari bandara kami sempatkam mampir ke masjid dekat rumah untuk sujud syukur, mampir kerumah sebentar langsung ke Rumah Sakit untuk melihat anak kedua kami yang masih opname disana. Untuk orang2 yang tidak setuju dengan keberangkatan haji kami mungkin mereka berfikir “Tuh kan, anaknya ditinggal lama, sampai masuk rumah sakit..” (maafkan aku Ya Allah kalau aku terlalu berprasangka). Tapi aku sungguh bersyukur dan berprasangka baik pada Allah. Allah begitu baik padaku & suamiku, sehingga kalaupun aku diberi cobaan dengan sakitnya kedua anakku tapi dia memberi cobaan itu pada saat aku hampir selesai menunaikan ibadah haji kami. Coba kalau cobaan itu datang pada saat kami akan berangkat haji, mungkin itu akan sangat mengganggu kosentrasi kami selama beribadah.

Allah Maha Baik.. Tak sedikitpun aku mengingkarinya...
Aku disini tidak lagi promosi Training ESQ lho... Aku juga gak tau, dari sekitar 200 orang yang ikut training itu, berapa dari mereka yang tersadar atas segala kealpaannya selama ini... Bisa jadi seluruhnya, separonya atau mungkin cuman aku satu2nya. Disini aku cuman mo bilang, Hidayah Allah SWT bisa datang pada siapa aja, kapan aja dan dengan cara apa aja. Mungkin kalo bisa dibilang, Hidayah yang aku terima dari Allah SWT ya dari ngikut Training ESQ itu , dimana yang dulunya aku anti untuk berhaji menjadi ingin segera berangkat haji. Sungguh harga hidayah yang sangat murah. Hanya dengan Rp 1,6jt, telah menyadarkanku akan kebodohan2ku selama ini. Akupun tak lupa bersyukur, mendapat suami yang begitu baik, yang telah mengajakku menuju hidayahNya. Coba saat itu suamiku gak ngajak training ESQ, pasti sekarang aku cuman hanya bisa mendengar cerita tentang Kabah, Raudah, Jabal Rahmah, Jabal Uhud, Masjid Quba, dll. dari cerita orang2 yang sudah pernah kesana. Alhamdulillah, ternyata aku bisa langsung dengan mata kepalaku sendiri melihat Kabah yang selama 5 kali sehari kita sholat menghadapnya. Jarikupun bisa langsung menyentuh Kiswah yang menutupinya. Apapun itu, aku percaya bahwa emang itu udah diatur olehNYA.

Pertama kali aku lihat Kabah, aku menangis. Campur aduk, antara senang, terharu, takjub,.... Rasa tak percaya aku sudah didepan Kabah, tempat dimana kita selalu menghadap saat kita Sholat. Yang jelas aku menangis karena bersyukur, karena aku termasuk satu dari jutaan tamu Allah yang berhaji tahun itu. Aku bersyukur, meskipun aku jauh dari sebutan perempuan sholeha, tapi Allah begitu menyayangiku sehingga memasukkan aku dalam daftar undanganNya untuk datang kerumahNya.
Alhamdulillah... NikmatMu sungguh tak terhingga.

Salah seorang sahabatku (m’Diah) gak percaya bercampur seneng saat dia ulang tahun di pertengahan Agustus 2005 aku bilang “Insya Allah aku berangkat haji tahun ini mbak..”.
Dia bilang, ini kado terindah dari aku untuk dia katanya. Lhah..??!
Emang m’Diah itu orangnya lugu & lucu, wong aku yang seneng karena mo berangkat haji kok cuman karena denger niatku berhaji aja udah dia bilang itu kado terindah untuk dia. Hehehe...

Apapun, thanks ya m’Diah yang baik hati & tidak sombong...
m’Diah selalu jadi penyemangatku untuk urusan2 beginian.
I’m glad we’re friend Prof..

Dia yang selama ini selalu gak capek2 ngingetin aku untuk berangkat haji, dan dengan becanda selalu aku jawab ‘Ntar aja deh mbak.., biar suamiku dulu aja yang berangkat.” Terakhir ngobrol kira-kira 1 bulan sebelum kuputuskan berangkat haji, akupun masih menolak saat m’Diah menyuruhku untuk berhaji.

Waktu menunaikan ibadah haji itu juga aku bertemu sahabatku Aik. Gimana aku pertama kenal dia, udah aku tulis di blogku juga.

http://rienagatut.blogspot.com/2008/05/met-menunaikan-ibadah-umroh-ya-ik.html

Meskipun orangnya cuek minta ampun, tetapi aku akui, dia begitu banyak memberi inspirasi aku tentang bagaimana cara berbuat kebaikan pada sesama dan bagaimana cara membahagiakan orang2 yang kita cintai. Thanks ya ik...


Yah, kalo diinget jalan hidupku, rasanya tak ada sedikitpun nikmatNya yang bisa aku dustakan. Aku dikelilingi oleh orang2 yang begitu menyayangiku, mulai dari orang tua dan mertua yang begitu menyayangi kami, suamiku yang sangat perhatian dan sayang padaku dan anak2 kami, anak2ku Laras, Garin dan Ressa yang sehat & lucu, juga sahabat2 yang selalu mengingatkanku akan kebaikan.

Terima kasih Ya Allah...
Nikmat dan KaruniaMu sungguh tak terhingga..
Ampuni aku kalau kadang aku lupa untuk mensyukurinya
Jangan karenanya Engkau menjadi murka padaku Ya Allah..
Jadikan aku, keluargaku dan keturunan2ku menjadi hambaMu yang pandai mensyukuri semua nikmat dan karuniaMu

Nah sahabat2ku, itulah sedikit latar belakang keberangkatan hajiku di tahun 2005 lalu. Mohon maaf jika ada kata2 dari ceritaku ini yang kurang berkenan dihati. Mungkin juga alur ceritaku yang morat-marit. Mohon maklum, karena aku bukan seorang penulis novel. Tidak ada niatan lain dari apa yang aku ceritakan kecuali ingin berbagi cerita dengan kalian, sahabat2ku yang aku cintai. Semoga kalianpun dapat segera berangkat untuk memenuhi undanganNya. Karena tanpa kita sadari sebetulnya undangan itu sudah Allah sampaikan kepada kita, cuman telinga kita mungkin kurang peka untuk mendengar panggilanNya.

LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK
LABBAIKA LA SYARIKA LAKA LABBAIK
INNAL HAMDA WA NIKMATA LAKA WAL-MULKA
LAA SYARII KA LAK


"Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah,
Aku datang memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya,
Ya Allah aku penuhi panggilanMu.
Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata.
Segenap kerajaan untukMu.
Tidak ada sekutu bagiMu"


Allah Yang Maha Memberi rezeki, yang Memiliki kekuatan akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.

Jumat, 29 Agustus 2008

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)


Menyambut Bulan Suci Ramadhan, saya beserta keluarga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila ada salah ucap, salah perbuatan serta kelalaian kami yang mungkin menyakiti hati teman2 semua.

Semoga kita dapat menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan ini dengan hati yang bersih dan semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
Amin Allahumma Amin.

Rabu, 28 Mei 2008

Mengapa kita harus membaca Alquran ?

Ditulis pada Nopember 20, 2007 oleh sigit setiawan

Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Al Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, “Kakek! Aku mencoba untuk membaca Al Qur’An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Al Qur’An?

Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, “Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.” Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, “Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup, maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, ” Lihat Kek, percuma!” “Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.

Kakek berkata, “Lihatlah keranjangnya.” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. “Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Al Qur’An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.”

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk
kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr.
Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo
dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf
terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua
mempelai. Kepada Professor dipersilahkan..."


Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan
resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di
tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan
disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-
nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan
dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering
nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih
melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya
memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa
ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan
kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium,
kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat
sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma
ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat
lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada
kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...

Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan
bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai
harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya.
harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan
Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah
mutiaranya dan buanglah lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,
melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan
kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.

Tiga puluh tahun yang lalu ...

Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan
menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi,
keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah
terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di
Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang
memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik
di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup
dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan
hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat.
Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan
aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini.
Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang
didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya
cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman
dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan
perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka
menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial
keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat
dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun
saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu
mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah
dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke
luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya.
Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan
keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza
yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah.
Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil
biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para
dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.

"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas
ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah
habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di
hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang
penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan,
kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya
menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan
tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis
yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa
telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk
menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu
ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi
di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua
menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan
yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan
hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu,
dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan,
kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam
memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.

Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu
saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan
membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum:
Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan
dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak
saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin
yang tak terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang
cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan
dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki
sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya
dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi
yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia
lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun
dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri
sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya
membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui.
Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya
sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada
perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di
jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-
jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili
pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui
dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah
menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah
dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu
yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga
besar Al Ganzouri."

Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan
ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda
kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah
dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan
hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan
pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-
apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci
yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya.
Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,
dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la
haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau
setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-
mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau
menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya
sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak
pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan
keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan
bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri
penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke
kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang
sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun
untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab
imam Hanafi.

Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya
terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan
mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam
Abu Hanifah."

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata
3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah
itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah
di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar
menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum
berakhir.

Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah
kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan
mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari
rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari
rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa
potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang
saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih
tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang
sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound
atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua
bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan
Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa
cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya
saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan
jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup
menjalari sukma kami.

"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti
ini. Maafkan Kanda!"

"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita
telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak
bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir
anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan
tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita
tempuh ini.

Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama
kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan
buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan
keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita
ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan
mereka akan menangis haru.

Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita
kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah
rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika.
Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi
dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan
menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk
di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa.
Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak
mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang
juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah
toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman
sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala
kadarnya yang murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan
kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus
mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta,
kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami
berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra
Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin
dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan
mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus
dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu,
jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia
bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah
sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang
jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari
25 pound saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu
kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih
dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu
kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua
cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa
tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini
kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta?
Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-
orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah
menjanjikan cinta.

Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya
persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah
untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah
di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh
lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa
dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh
Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya.
Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah
SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an
dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang
berhak memperoleh segala cinta di surga.

Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus
mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan
tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah
Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu
siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia
memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad
untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia
juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa
sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup
untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan
kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan
dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-
sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter
itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara
seperti Mamduh dan isterinya."

Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi
nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan
kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri
agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami
memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada
yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan
pertolongan-pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan
yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan
tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami.
Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami
digedor dan didobrak oleh 4 ..::makhluk yang lucu::.. kiriman ayah
saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-
satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur
tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam
dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan
ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan
Pasha."

Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala
itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat ..::makhluk yang
lucu::.. itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi
nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang
hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami
masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek
tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan
kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur
kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman
inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi
hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup
tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah
merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan
tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen
militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan
undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah
total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak
mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman
karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil
membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk
bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu
terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa
berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil
meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai
isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu,
sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara
saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu
tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya
takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6
pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang
sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur
karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hamba-Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia
mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah
kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan
rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu
kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan
keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang
putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya
teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup
bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku... besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari
nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta.
Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras
untuk masuk program Magister bersama!

"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah
saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari
pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan
keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh
untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat
tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya,
kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian
cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa
tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita
sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah
kita."

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku
pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran
dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami
memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan,
sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek,
buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan
roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari
awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut
kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama
dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami
obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa
uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan
itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah
menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri
saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab.
Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi
dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan
saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup
sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang
asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di
rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang
luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan
rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya
adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya
dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan,
dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh
cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan
terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di
dunia ini.

"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra
sambil tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih
gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja!
Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister
pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada
istilah makan enak dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami
berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan
untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka,
kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang
mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal
masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir
setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia
kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program
Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita
lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar
Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak
ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil
merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah
menyediakan dana tambahan."

Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol
gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya
spesialis jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak
kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya
diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai
wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai
dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam
suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah
sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali
laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling
dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah
lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah
swt dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika
hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan
mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak
pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka
lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum
ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah
istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa
mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok
perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru.
Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga
merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru
kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini
dengan seksama.

Dari milis Airputih (airputih@yahoogroups.com)

Tangisan Untuk Adikku

Aku dilahirkan disebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari orang tua ku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Ayah mencintaiku lebih daripada aku mencintainya.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku, ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut didepan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi beliau mengatakan, “Baiklah kalau begitu kalian berdua layak dipukuli!”.
Dia mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi. tiba-tiba, adikku mencengkramnya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk diatas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal apa lagi yang akan kamu lakukan dimasa mendatang? Kamu layak dipukuli sampai mati! Kamu pencuri tidak tau malu!”.


Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikan air mata seteres pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk meju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tudak akan pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu adikku berusia 8 tahu dan Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhir di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk kesebuah provinsi. MAlam itu ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengar memberenggut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”
Saat itu juga, adikku berjalan keluar kedhadapan ayah dan berkata, “Ayah, Saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika Bearti saya mesti mengemis di jalan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah didusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa kemuka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak ia tidak akan meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, Sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap kesamping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas diatas bantalku. “Kak, masuk ke universitas itu tidak mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut diatas tempat tidurku, dan menangis dengan airmata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya dilokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ketahun ketiga. Suatu hari, aku sedang belajar dikamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar diluar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang kepada teman sekamarku kalau kamu adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? apa mereka tidak akan menertawakanmu?” aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dengan kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya ia mengeluarkan jepit rambut berbentuk kupu-kupu. ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat gadis kota memakainya, jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku kedalam pelikanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku kerumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih dimana-mana, setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil didepan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? ia teluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”
Aku masuk kedalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, serarus jarum terasa menusukku Aku mengolesi sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu ketika saya bekerja dikontruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku untuk bekerja dan.”

Ditengah kalimat itu dia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun kewajahku. Tahun itu adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika Aku menikah, aku tinggal banyak dikota. Banyak kali Suamiku dan aku mengundang oarang tuakuuntuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah disini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. tetapi adikku menolak tawaran tersebut. ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapatkan sengatan listrik, dan masuk rumah sakit Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putihpada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menololak jadi manager? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. mengapa kamu tidak mau mrndengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar ia baru saja menjadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita apa yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepata-patah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kamu kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat, “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi kesekolah dan pulang kerumah. Suatu hari, Saya kehilangan sati dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba dirumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, “Dalam hidupku, Orang yang paling aku berterimakasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling bahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. (Dari “i Cried for My brother six times-swaramer)



Cerita ini diambil dari sebuah e-book kumpulan cerita motivasi
judul : Motivasi net
oleh : Ir. Andi Muzaki,SH,MT.



cat : Bila ada kebaikan dalam cerita ini maka ambillah kebaikan tersebut dan bila ada keburukan dalam ceriata ini buang dan tinggalkanlah keburukan tersebut. Semoga kita mendapatkan hikmah dari cerita tersebut.

Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat

Buat para suami baca ya.....
istri & calon istri juga boleh..

Based on True Story..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi,
Usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun
kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga
sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun

Mereka dikaruniai 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah
istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa
digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh
tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah
tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, Dan
mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia
letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya
tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari
rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan
siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan
selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan
apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap
berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan pak Suyatno lebih kurang 25
tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan
keempat buah hati mereka,sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si
bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul
dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak
mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak Suyatno
memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu
semua
anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin
sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak
ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.........bahkan bapak
tidak ijinkan kami menjaga ibu" .

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg
keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun
akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak
dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami
janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka."
Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk
nafsu, mungkin bapak akan menikah......tapi ketahuilah dengan adanya
ibu
kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan
kalian..

Sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir
didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan
apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya
seperti ini.
Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia
meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang,
Kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh
orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak Suyatno merekapun melihat butiran2
kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno..
dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV
swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan
kepada suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya
yg sudah tidak bisa apa2..

Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio
kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak
Suyatno bercerita. "Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta
dalam perkawinannya,tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga,
pikiran,perhatian ) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya,
dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya,
mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,
dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu
merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapatmemegang komitmen untuk
mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari
penggantinya,apalagi dia sakit,,,"

Doa Imajiner (Ratih Sang)

Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah:
“Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah, agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus.”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir:
“Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islami yang baik meskipun mahal, beri aku rizki untuk itu ya Allah….”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah:
“Ya Allah….. jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda.”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja:
“Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat buah yang sedang ranum.”

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa:
“Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka, yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami.”

Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah:
“Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan dia karena dia akan ikut suaminya.”

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan:
“Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat. Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya cucuku.”

Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata……
“Engkau ingin suami yang baik dan sholeh sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah?
Engkau ingin suamimu jadi imam, akankah engkau jadi makmum yang baik?”
“Engkau ingin anak yang sholehah, sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu.
Jangan egois begitu……masak engkau ingin anak yang sholehah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu….tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku, karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku.”

“Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam, karena apa?…… prestige? …… atau….engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya?
Engkau juga harus belajar, Engkau juga harus bermoral Islami,
Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya.”

“Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan umat-Ku.”

“Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu,
seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku.
Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan.”

“Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu.
Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya.
Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku, bahkan ketika dia melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya.”

“Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah dari anakmu,
berilah kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya.”

Lantas…… aku malu…… dengan imajinasiku sendiri….aku malu……
aku malu akan tuntutanku…….

Maafkan aku ya Allah……lantas aku malu dengan imajinasiku sendiri.

(Ratih Sanggarwati, Gunung Geulis, 25 Desember 2002)

Rabu, 21 Mei 2008

AKU SAYANG AYAH

Suara hati seorang teman dalam sebuah blognya, yang saya ambil disini. ini mungkin bukan mewakili sikap perasaan kita semua kepada Ayah kita, namun jika kita mau merenungkannya ada sisi sisi yang menyentuh kita sebagai orang yang terukir dari seorang ayah, dan yang sekarang atau kelak akan menjadi ayah juga. selamat meresapi.- prap -

Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.

Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan.

Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka. karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.

Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu) , tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya.

Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.

Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman- temanmu dia tampak baik dan menyayangi.

Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.

Ayah benar- benar senang membantu seseorang…tapi ia sukar meminta bantuan.

Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.

AYAH ITU MURAH HATI…..Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan…..Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara…Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya….

Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu….

Ayah tidak suka meneteskan air mata ….ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya,dia sangat senang sampai- sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis)

Ayah bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.

Ayah pernah berkata :" kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu,jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya".

Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan: "jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu"

Dan Untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan :"jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu"

Ayah bersikeras, bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu…. Ayah bisa membuatmu percaya diri… karena ia percaya padamu… Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik….

Dan terpenting adalah… Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya

Aku Sayang Ayah... Sayang Ibu...

TULISAN INI KUPEROLEH DARI MILLIS, SEMOGA BERMANFAAT. Hati2 dengan kebanggaan barang sendiri melebihi kasih sayang dengan anak......ya anak sendiri ataupun anak orang lain ....jadi jika ada sesuatu yang aneh yang membuat kita emosi obat nya harus istigfar 3x .....

Semoga bisa jadi nasehat bagiku, dalam mendidik anak ku. Berikut ceritanya.....


Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantaitempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat darimarmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" .... Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya.Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebutmenggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu."Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mataisterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah..sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris."Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?...Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf...Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi..., Namun...., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

Minggu, 18 Mei 2008

Manajemen Curhat

Mencurahkan isi hati (curhat) merupakan kebutuhan fitrah setiap insane untuk menyalurkan pikiran dan perasaan. Kala hati terasa gundah, atau pikiran yang terasa sesak curhat pun bisa menjadi alternative penyaluran endapan emosi untuk melegakan hati atau bahkan mencari solusi.


Dr. Neil Jacobson, peneliti kejiwaan pada Universitas Washington percaya betul manfaat curhat. Menurutnya, membiasakan curhat secara sehat kepada pasangan hidup dapat membantu suami istri mengelola stress. Bahkan, menurut John M. Gottman dan Nan Silver dalam The Seven Principles For Making Marriage Work kemampuan mengelola curhat secara benar antar pasangan merupakan metode yang efektif untuk mengupayakan perbaikan hubungan antara suami istri, yang sedang tegang sekalipun.


Bukan asal curhatUntuk memperbaiki hubungan dan mencari rasa plong di dada, muslimah pun perlu melakukan curhat. Tetapi perlu diingat, curhat yang tak terkendali justru bbisa menjadi boomerang dan berdampak fatal.


Penyimpangan curhat bisa juga terjadi bila seorang muslimah curhat tanpa bersikap selektif. Misalnya saja curhat pada orang yang salah dan tidak amanah atau melakukan curhat yang isinya tidak proporsional/tidak relevan. Sering terjadi sebagian muslimah mencurhatkan sesuatu yang sebenarnya hanya perlu diadukan kepada Allah. Atau sebaliknya menutupi sesuatu yang seharusnya dicurhatkan kepada orang lain.


Islam sangat mengenali suasana kejiwaan manusia yang membutuhkan curhat sebagai salah satu ekspresinya. Tetapi, sekali lagi curhat ini harus terkendali atau dimenej dengan benar. Diantara indikasi lemahnya tingkat kecerdasan intelektual dan emosional seseorang menurut islam adalah bila ia tidak dapat mengelola curhatnya, sehingga segala yang ada didalam pikiran dan hatinya bagaikan butiran licin yang berada di ujung lidah dan siap menggelinding keluar kapan saja.


Curhat = Konsultasi + Komunikasi



Substansi curhat menurut islam adalah konsultasi dan komunikasi, baik secara vertikal maupun horizontal. Apa yang kita kenal sebagai istikharah, misalnya adalah konsultasi vertikal spiritual untuk mengadukan segala dinamika dan romantika hidup kepada Allah SWT sebagai sumber kekuatan, petunjuk dan pendengar setia keluhan para hamba. Begitupun segala doa, sholat, kontemplasi, tawajjuh dan khalwah kita dengan Nya disaat menyendiri dan hening.



Sedemikian pentingnya membiasakan istikharah, sehingga menurut Imam Al Ghazali dalam Ihya nya, para sahabat berkomentar bahwa Rasululloh mengajarkan istikharah secara teliti dan telaten seperti saat mengajarkan surat Al Fatihah.


Manusia memang tidak dapat hidup bahagia dengan memendam perasaan dan pikirannya sendiri tanpa mengutarakan pada orang lain untuk mendapatkan respon dan saran yang lebih baik.



Oleh karena itu unsur lain yang sangat penting dalam melakukan curhat adalah musyawarah, yang merupakan cirri khas orang beriman (Qs.Asy Syura : 38)


Kunci kekompakan dan keharmonisan hubungan keluarga/hubungan antar sesama terletak pada kemampuan manajemen curhat melalui musyawarah yang sehat dan benar (QS. Ali Imran : 159).



Imam Al Mawardi dalam kitab Adab ad Dunya wad Din, menegaskan bahwa kecerdasan intelektual dan emosional seseorang terlihat dari kebiasaannya yang baik dalam curhat.



Indikasinya adalah bilamana ia terbiasa bermusyawarah dalam mengungkapkan isi hati dan pikirannya agar mendapatkan masukan positif dari orang yang tepat dan berkompeten.
Apabila seseorang terlalu yakin dalam menjalani hidup dan memikul perasaannya sendiri, cepat atau lambat ia akan merasa menyesal dan kecewa. Ia akan merugi, akibat tidak melibatkan orang lain dalam masalahnya dan menyia-nyiakan peluang keberkatan dalam mendapatkan bantuan moril maupun materiil dari orang-orang terdekatnya.



Tepatlah apa yang dikatakan Umar bin Abdul Aziz : “ Konsultasi dan diskusi merupakan pintu rahmat dan kunci berkah yang tidak akan tersesat dan tidak akan ragu melangkah.”


Para ulama selalu berpesan :”Tidaklah merugi atau kecewa orang yang beristikharah dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah.”



Nabi pun bersabda :”Musyawarah merupakan benteng dari penyesalan dan perlindungan dari menyalahkan diri sendiri.”


Umar bin Khatab pun mengelompokkan manusia dalam tiga tipe yaitu :
1. Orang yang tertutup dan cenderung egois dengan perasaan dan pikirannya sendiri
2. Orang yang cenderung terbuka dan kooperatif dengan membiasakan curhat kepada orang yang tepat
3. Orang yang hidupnya bimbang dan bingung namun tidak mau konsultasi dan tidak mau mengikuti saran yang baik.


Pilih orang yang tepat Curhat yang benar merupakan solusi dan rekreasi, sebaliknya curhat yang salah dapat menimbulkan masalah. Curhat yang benar yaitu disaat yang tepat dan kepada orang yang tepat.


Agar tidak terjadi salah curhat, seorang muslimah dalam manajemen curhatnya harus memperhatikan beberapa tips berikut :


1. Hanya curhat kepada orang-orang yang berpikiran arif, luas, jernih, cerdas da berpengalaman. Nabi bersabda ; “Curhatlah kepada orang yang berpikira arif niscaya akan benar jalan hidup kalian dan jangan meninggalkan sarannya niscaya kalian akan menyesal.” Iman Abdullah Ibnul Hasan pun menasehati anaknya: “Waspadailah saran orang yang bodoh meskipun ia tulus.”


2. Pilih teman curhat yang memiliki keimanan, keshalihan dan ketaqwaan, dapat memberikan saran dan komentar yang baik sekaligus mampu menjaga amanah curhat. Nabi berpesan : “Barangsiapa menginginkan sesuatu lalu menkonsultasikannya dengan seorang muslim yang konsekuen niscaya Allah akan memberikan padanya jalan yang terbaik.”


3. Harus ada ketulusan, kesetiaan, kepedulian dan empati kedua belah pihak yang curhat maupun temannya. Hindari hal-hal yang akan mengeruhkan ketulusan dan mengaburkan niat.


4. Pilih suasana dan orang yang tepat untuk curhat agar tidak salah paham atau malah memberikan respon dan tangapan yang keliru.


5. Ingatlah bahwa memang ada beberapa hal dicurhatkan pada orang lain demi meraih kemaslahatan serta menghindari mudharat bila tetap memendamnya. Namun, ada pula hal-hal lain yang hanya dapat dicurhatkan kepada Allah untuk melegakan perasaan dan menumpahkan segala emosi. Nabi bersabda :“ konsultasilah dengan nuraani, meskipun telah banyak orang yang memberikan saran kepadamu.”


6. Pilihlah orang yang memenuhi kriteria diatas dengan mempertimbangkan skala prioritas dan kedekatan, baik fisik maupun psikis. Jangan meninggalkan orang-orang terdekat bila mereka memang layak diajak curhat.


Bila muslimah telah melakukan manajemen curhat yang baik ini berarti ia telah memberi kesempatan bagi dirinya sendiri untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, sekaligus menjadi indikasi kepribadian yang shalihah. Seperti yang diungkapkan lewat Nabi SAW : “Puncak kecerdasan emosional setelah iman kepada Allah adalah sikap simpatik pada orang lain. Tidaklah seseorang yang egois dengan pikirannya akan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dan tidaklah akan celaka seseorang karena musyawarah. Jika Allah menginginkan seorang hamba celaka maka pertama kali yang mencelakakannya adalah pikirannya sendiri. “


Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin pun menuturkan petuah para ahli bijak berstari yaitu barang siapa dikaruniakan empat hal tidak akan kehilangan empat hal : Siapa yang dikaruniai syukur tidak akan kehilangan tambahan nikmat, siapa yang dikaruniai taubat tidak akan kehilangan ampunan, siapa yang dikaruniai istikharah tidak akan kehilangan kebaikan dan siapa yang dikaruniai musyawarah tidak akan kehilangan kebenaran.


Wallahu A’lam



By : Dr.H. Setiawan Budi Utomo

Sumber : UMMI edisi 3/2001

Pudarnya Pesona Cleopatra

Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )
Karangan :
Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)


Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu" kata ibu."Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu" ,Ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadiMentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang Begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria Dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa Berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai.

Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face Dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, Bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra,Yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah.

Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibitCintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing.

Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya Kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang Kerja. Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab " tidak Apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil'mbak', " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu A'lam" jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak Mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah ?Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus Bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku Didunia ini". Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air Mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku.

Hari terus berjalan, tetapi Komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah Siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. " Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya dikerokin" jawabku lirih. " Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok Bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis Tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di Istananya."Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. " Dia memintaku untuk mencarikannya seorang Pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, Kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. "Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi Apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu Dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri Belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra." Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang Bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku Dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Ma….maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din…Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. " Ya Mas!" sahut Hana langsung menghentikan langkahnya Dan pelan-pelan Menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". " Matanya sedikit berbinar. "Te…terima Kasih…Di…dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. " Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?". Hana begitu Bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum Pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami Dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. "Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua Dan ubundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal ?
Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia. Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta sepertiYang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga Kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir Tentang keturunan. " Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum Ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu" kata Ibuku. "Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap Dan mengangguk sekenanya. Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, Aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.

Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi.Setiap saat nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam dan mendesah sedih. " Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhkubenar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir.

Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah menikah?" kata Pak Qalyubi. "Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan orang mana?. " Orang Jawa". " Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?". "Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". " Kau sangat beruntung, tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?" " Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang". " Bagaimana itu bisa terjadi ?". " Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan amat terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dariIndonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil.Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untukmenikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali kemedan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia.Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin.Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat.Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, makarumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir. Saya menyesalmeletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah.Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untukmerintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. " Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir". Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahandiri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang".

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku,tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah memintaapapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belumterbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong….Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbi…ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran.
Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan.
Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba……"
tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa

" Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya.Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengancara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau".

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang.Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memelukkakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata.

Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap airmataku.Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu.Aku jadi heran dan ikut menangis. " Mana Raihana Bu?". Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi ?." Raihana…istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya" .
" Ada apa dengan dia".
"Dia telah tiada".
"Ibu berkata apa!".
" Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya" .Hatiku bergetar hebat. " Ke…kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?". " Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampuskatanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami".
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali.
Dunia tiba-tiba gelap semua.