CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Selasa, 11 November 2008

HIDAYAHKU SEHARGA Rp 1,6Jt



LABAIKALLAHUMMA LABAIK
‘Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah...’

Ya Allah..
NikmatMU mana lagi yang bisa aku dustakan..
Begitu banyak nikmat dan karunia yang sudah Kau beri untukku dan keluargaku
Terima kasih telah Engkau ijinkan aku dan keluargaku untuk datang lagi kerumah-Mu..
Terima kasih atas semua kemudahan yang telah Engkau beri selama kami menunaikan ibadah umroh awal puasa kemaren, sehingga kami dapat kembali lagi berkumpul dengan keluarga kami dirumah dalam keadaan sehat dan selamat.
Terima kasih juga telah Kau jaga anak-anakku Garin dan Ressa selama kami penuhi panggilan-Mu.

Hanya Engkau AR-RAQIIB, AL-HAFZIIDH, AL MUHAYMIN,AL-MU’MIN, AL WAALY
Jangan pernah Engkau bosan untuk mengundangku dan keluargaku untuk datang kerumahMu, karena sesering apapun Engkau undang kami, tak akan pernah rasa bosan itu datang pada kami.

Tanpa ada niatan apapun selain untuk berbagi dengan sahabat2 yang aku sayangi, ijinkan aku sedikit berbagi cerita soal keberangkatan hajiku di tahun 2005 kemaren.

Sebelum ada keinginanku untuk menunaikan ibadah haji tahun 2005 lalu, rasanya aku biasa-biasa aja tuh saat mendengar kata Talbiyah.Tapi entah kenapa, sejak keinginan berangkat haji begitu menggebu di tahun 2005 itu, kata Talbiyah itu sangat menggetarkan hatiku. Bukan hanya menggetarkan hatiku, tapi juga saat aku mengucapkannya, rasanya tak kuasa kubendung air mataku.

Untuk sahabat2ku ketahui. Aku berangkat haji tanggal 21 Desember 2005, tapi keinginanku untuk berangkat haji baru muncul pada bulan Juli 2005. Jadi antara keinginan dan terwujudnya impianku hanya berselang ±6 bulan. Subhanallah... Allah sangat baik padaku,sehingga semua kemudahan2 selalu diberikannya dalam persiapan keberangkatan hajiku.

Entah berapa kali suami mengajakku untuk menunaikan ibadah haji, dan entah berapa kali juga aku menolaknya. Sempat aku katakan “Sudahlah mas, kalau mau berangkat haji, berangkat aja. Biar aku yang jaga anak2 dirumah.” Yang akhirnya suamiku menyerah dan membuka Tabungan Haji di Bank BNI hanya untuk dia seorang. Kalau mengingat alasanku menolak tawaran berhaji suamiku dulu, rasanya malu sekali aku mengatakannya. Malu mengakui betapa bodohnya aku dan betapa tipisnya keimananku.

Suatu hari suamiku meneleponku dari kantornya dan mengajakku untuk ikut dalam suatu training (saat itu aku nggak tau apa namanya). Setelah dijelaskan baru aku tau ternyata yang suami maksud adalah ESQ yang dimotori Ary Ginanjar Agustian. Dasar perempuan (hehe..) yang pertama kali aku tanyakan adalah “Berapa biayanya mas....?”. Waktu suamiku bilang 1 orang Rp 1.600.000,- aku langsung bilang “Haaahhhh.... mahal banget...!” dan aku langsung bilang “Ya udah, mas Gatut aja yang ikut, aku minta duitnya aja...”. Ya jelas keinginanku ditolak oleh suamiku. Akhirnya dengan terpaksa aku ikuti keinginan suamiku untuk ikut pelatihan ESQ.

Aku bayangin training yang berlangsung 3 hari penuh itu pasti akan sangat membosankanku, membuat aku ngantuk, bla..bla..bla..
Ternyata apa yang aku bayangkan sangat jauh dari kenyataan. Training itu begitu mengesankan. Hari pertama training sudah menyadarkanku akan kebodohhanku selama ini. Paling tidak Training ESQ sudah menyadarkanku akan 2 hal,

Hal Pertama : Training ESQ menyadarkanku bahwa aku adalah ibu yang buruk. Tau kenapa?
Selama ini aku selalu marah2 sama anak2ku kalo mereka malas les ngaji. Padahal kalo mereka tau ibunya gak bisa ngaji & belum khatam Al Qur’an pasti mereka mentertawakan aku.
Alhamdulillah, Allah SWT segera menyadarkan kealpaanku. Selesai training ESQ, waktu ada pembukaan kursus Baca Al Qur’an di Masjid Al Falah, aku & suamiku langsung daftar. Alhamdulillah, kami berdua sekarang udah Khatam Al Qur’an dan sampai sekarang kami masih terdaftar dan ikut aktif sebagai santri di Kursus Ngaji Masjid Al Falah. Sekarang aku sudah di Tartil Khusus IV dan Suamiku di Tartil Khusus II.

Hal Kedua: Training ESQ menyadarkanku bahwa aku adalah orang yang paling bodoh dan yang paling tipis tingkat keimanannya.
Diawal tadi aku udah cerita tentang penolakanku atas ajakan suamiku untuk berhaji. Kalian pingin tau alasannya? Alasan yang cukup bodoh..

“AKU TAKUT MATI”. Bener2 alasan bodoh kan.....??!!

Di training ESQ itu aku baru tersadar (selama ini aku pingsan kali ya..?) bahwa kalau Allah SWT ingin mengambil nyawaku, ya gak harus pas naik haji kalee’.....

Lha wong Allah SWT itu Maha segalanya. Kalau Allah SWT menginginkan saat aku tidur dan tidak pernah terbagun lagi, tentu itu perkara mudah bagiNya. Kalau Allah SWT pingin saat aku enak2 makan ikan di Resto Cianjur terus tertelan durinya terus aku mati, tentu itu perkara kecil bagiNya.

Saat itulah aku segera sadar bahwa perkara mati tidak seorangpun bisa mengelaknya. Jadi gak ada hubungannya naik haji dengan mati. Karena semua sudah ditanganNya.

Di perjalanan pulang training hari Pertama aku langsung bilang ke suamiku, “Kita berangkat haji yuk Pa..”. Tentu saja suamiku seneng banget mendengar kata2ku. Tapi dia bilang “Uangnya belum cukup”. Aku langsung menjawab “Kita jual aja mobil mercy kita”. Dulu aku sangat bangga dengan mobil itu. Mobil yang aku beli dari Papaku dengan diskon gede2an. Hahahaha... Mobil itu meski tahun lama, tapi punya sejarah dalam hidupku. Tapi entahlah, sejak ikut training itu, kebanggaanku atas benda2 menjadi hilang.

Dulu aku begitu gampang terpukau dengan benda yang aku lihat. Lihat mobil mewah atau rumah2 mewah di jalan, langsung berpikir, berapa ya harganya? enak gak ya duduk didalamnya? siapa ya yang punya? sekaya apa ya dia? itulah aku dulu. Aku begitu gampang terpukau dengan benda2 buatan manusia. Aku lupa dengan apa yang aku lewatkan sepanjang hariku ternyata lebih memukau dari itu. Bukankah bumi, matahari,bulan, bintang, awan, tumbuhan, manusia, binatang, semuanya lebih hebat daripada itu?? Tak bisa kubayangkan jika bumi, matahari dan planet2 yang lain sedikit saja keluar dari orbitnya, apa yang bakal terjadi.. Tak bisa kubayangkan jika manusia tanpa air, tumbuhan dan hewan apa yang terjadi.. Allah SWT begitu hebatnya tapi aku sering melupakanNya. Aku sangat menyesali kekagumanku yang salah selama ini. Ampuni aku Ya Allah...

Syarat berangkat haji yang mengatakan ‘Berangkat haji kalau kita mampu’ itu aku tafsirkan dengan keliru.
Dulu aku beranggapan bahwa ‘mampu’ itu adalah jika semua kebutuhan kita sudah terpenuhi. Rumah, mobil, biaya sekolah anak2, asuransi, ....dll. Nah, kalau semua sudah tersedia dan masih ada sisa, baru itu untuk biaya berangkat haji. Tapi aku segera tersadar, kalau nurutin keinginan kita sih gak akan ada selesainya. Keluar model mobil baru, pingin beli. Anak lulus SD butuh biaya untuk SMP setelah itu butuh biaya untuk kuliah, dst.,dst.
Saat itu Aku sudah punya 1 buah rumah yang menaungi keluargaku dari panas dan hujan meskipun tidak seperti rumah2 mewah di perumahan Citraland itu, temboknya penuh coretan2 tangan anakku, lantai garasi retak semua karena termakan usia, 1 buah rumah kos yang kami sewakan meskipun catnya sudah banyak yang pudar karena perlu dicat ulang, 2 mobil (yang 1 pinjaman dari perusahaan keluarga) , juga penghasilan suami yang cukup untuk kebutuhan sehari2. Jadi, kriteria mampu mana lagi yang masih aku harapkan.

Aku baru tersadar bahwa ternyata aku sebenarnya sudah masuk dalam kriteria mampu. Jadi apa lagi yang harus aku tunggu.
Kalau dipikir ternyata Allah itu sudah memanggilku untuk datang kerumahNya berkali2 .. tapi telingaku tidak cukup peka untuk mendengar panggilanNya. Bersyukur Allah segera membukakan telingaku untuk dapat mendengar panggilanNya.

Pulang Training ESQ hari terakhir, aku diundang saudara (Wiwit & Henny) untuk acara perpisahan karena dia & keluarganya akan pindah ke philipina karena tugas dari Philip perusahaannya (untuk alumni bhawikarsu pasti kalian tau Wiwit yang aku maksud adalah Wahyu Adi sepupuku) , sekalian acara syukuran karena dia akan berangkat haji tahun itu. Waktu ketemu aku bilang sama istrinya“Enak ya Hen, kamu bisa berangkat haji”. Dia bilang “Kalo kamu mau, yang haji+ masih buka pendaftaran”. Aku ya setengah gak percaya, karena waktu keberangkatan kurang 6 bulan lagi. Besoknya aku iseng telepon biro perjalanan haji referensi Mamaku. Waktu itu dia bilang jatah travel dia udah abis, tapi dia bisa mengusahakan. Besoknya aku ma suami ke travelnya untuk mendapat keterangan detailnya. Pegawainya bilang “Daftar aja bu, cuman butuh fotocopy KTP”. Lha karena kita belum punya duit ya aku bilang “Duitnya belum ada mas.., soalnya mobilnya belum laku”. Dia bilang gak papa, yang penting daftar dulu aja. Ya akhirnya berbekal ‘nekad’ dan semangat aku & suami ninggal fotocopy KTP. Sampai dirumah bingung, gimana dapat uang dengan cepat.Lha mobilku waktu itu Mercy C200 th 96. Gak mudah menjual mobil eropa.

Besoknya langsung aku masukin iklan. Tiap sholat aku selalu mohon pada Allah “Ya Allah, kalau memang Kau panggil aku dan suamiku untuk datang kerumahMu, bantu kami untuk menjual mobil kami Ya Allah..., Mudahkan jalan kami...”.
Hari pertama, mobil ada yang lihat abis maghrib harga gak cocok,
Hari kedua ada yang liat abis maghrib gak nawar.
Hari ketiga ada yang liat abis maghrib juga, dia nawar, tapi belum kami kasih. Tapi karena dia terlanjur suka sama mobil kami akhirnya kami sepakat dia naik & kami turun harga.

Alhamdulillah... akhirnya terjuallah mobil kami. Setelah dibayar pembeli, langsung kami bayar lunas ONH kami.
Setelah ONH kami terbayar lunas, baru kami sampaikan niat kami pada kedua orang orangtua ku dan kedua mertuaku. Sambutan mereka sungguh sangat baik. Insya Allah berkat doa mereka jugalah kami bisa menyelesaikan ibadah haji kami dan kembali kerumah dalam keadaan sehat dan selamat.

Tidak semua saudara2 kami menyambut baik niatku & suamiku untuk berangkat haji. Beberapa dari mereka ada yang berkomentar, ngapain berangkat haji sekarang, wong masih muda. Aku sih senyum2 aja, sambil ngomong dalam hati “emangnya siapa yang berani nanggung kita bisa tetep hidup sampai tua?”

Persiapan berangkat haji kamipun berjalan lancar meskipun ada beberapa hal kecil yang perlu pemikiran tentang siapa yang menjaga anak2 kami selama kami berangkat haji. Tapi aku & suamiku sangat yakin bahwa Allah SWT Maha Penjaga. Dia yang akan menjaga mereka selama kami memenuhi panggilanNya.

Mendekati kepulangan haji kami, anakku kedua dan ketiga secara bergantian masuk Rumah Sakit karena kena Demam Berdarah. Sepulang dari bandara kami sempatkam mampir ke masjid dekat rumah untuk sujud syukur, mampir kerumah sebentar langsung ke Rumah Sakit untuk melihat anak kedua kami yang masih opname disana. Untuk orang2 yang tidak setuju dengan keberangkatan haji kami mungkin mereka berfikir “Tuh kan, anaknya ditinggal lama, sampai masuk rumah sakit..” (maafkan aku Ya Allah kalau aku terlalu berprasangka). Tapi aku sungguh bersyukur dan berprasangka baik pada Allah. Allah begitu baik padaku & suamiku, sehingga kalaupun aku diberi cobaan dengan sakitnya kedua anakku tapi dia memberi cobaan itu pada saat aku hampir selesai menunaikan ibadah haji kami. Coba kalau cobaan itu datang pada saat kami akan berangkat haji, mungkin itu akan sangat mengganggu kosentrasi kami selama beribadah.

Allah Maha Baik.. Tak sedikitpun aku mengingkarinya...
Aku disini tidak lagi promosi Training ESQ lho... Aku juga gak tau, dari sekitar 200 orang yang ikut training itu, berapa dari mereka yang tersadar atas segala kealpaannya selama ini... Bisa jadi seluruhnya, separonya atau mungkin cuman aku satu2nya. Disini aku cuman mo bilang, Hidayah Allah SWT bisa datang pada siapa aja, kapan aja dan dengan cara apa aja. Mungkin kalo bisa dibilang, Hidayah yang aku terima dari Allah SWT ya dari ngikut Training ESQ itu , dimana yang dulunya aku anti untuk berhaji menjadi ingin segera berangkat haji. Sungguh harga hidayah yang sangat murah. Hanya dengan Rp 1,6jt, telah menyadarkanku akan kebodohan2ku selama ini. Akupun tak lupa bersyukur, mendapat suami yang begitu baik, yang telah mengajakku menuju hidayahNya. Coba saat itu suamiku gak ngajak training ESQ, pasti sekarang aku cuman hanya bisa mendengar cerita tentang Kabah, Raudah, Jabal Rahmah, Jabal Uhud, Masjid Quba, dll. dari cerita orang2 yang sudah pernah kesana. Alhamdulillah, ternyata aku bisa langsung dengan mata kepalaku sendiri melihat Kabah yang selama 5 kali sehari kita sholat menghadapnya. Jarikupun bisa langsung menyentuh Kiswah yang menutupinya. Apapun itu, aku percaya bahwa emang itu udah diatur olehNYA.

Pertama kali aku lihat Kabah, aku menangis. Campur aduk, antara senang, terharu, takjub,.... Rasa tak percaya aku sudah didepan Kabah, tempat dimana kita selalu menghadap saat kita Sholat. Yang jelas aku menangis karena bersyukur, karena aku termasuk satu dari jutaan tamu Allah yang berhaji tahun itu. Aku bersyukur, meskipun aku jauh dari sebutan perempuan sholeha, tapi Allah begitu menyayangiku sehingga memasukkan aku dalam daftar undanganNya untuk datang kerumahNya.
Alhamdulillah... NikmatMu sungguh tak terhingga.

Salah seorang sahabatku (m’Diah) gak percaya bercampur seneng saat dia ulang tahun di pertengahan Agustus 2005 aku bilang “Insya Allah aku berangkat haji tahun ini mbak..”.
Dia bilang, ini kado terindah dari aku untuk dia katanya. Lhah..??!
Emang m’Diah itu orangnya lugu & lucu, wong aku yang seneng karena mo berangkat haji kok cuman karena denger niatku berhaji aja udah dia bilang itu kado terindah untuk dia. Hehehe...

Apapun, thanks ya m’Diah yang baik hati & tidak sombong...
m’Diah selalu jadi penyemangatku untuk urusan2 beginian.
I’m glad we’re friend Prof..

Dia yang selama ini selalu gak capek2 ngingetin aku untuk berangkat haji, dan dengan becanda selalu aku jawab ‘Ntar aja deh mbak.., biar suamiku dulu aja yang berangkat.” Terakhir ngobrol kira-kira 1 bulan sebelum kuputuskan berangkat haji, akupun masih menolak saat m’Diah menyuruhku untuk berhaji.

Waktu menunaikan ibadah haji itu juga aku bertemu sahabatku Aik. Gimana aku pertama kenal dia, udah aku tulis di blogku juga.

http://rienagatut.blogspot.com/2008/05/met-menunaikan-ibadah-umroh-ya-ik.html

Meskipun orangnya cuek minta ampun, tetapi aku akui, dia begitu banyak memberi inspirasi aku tentang bagaimana cara berbuat kebaikan pada sesama dan bagaimana cara membahagiakan orang2 yang kita cintai. Thanks ya ik...


Yah, kalo diinget jalan hidupku, rasanya tak ada sedikitpun nikmatNya yang bisa aku dustakan. Aku dikelilingi oleh orang2 yang begitu menyayangiku, mulai dari orang tua dan mertua yang begitu menyayangi kami, suamiku yang sangat perhatian dan sayang padaku dan anak2 kami, anak2ku Laras, Garin dan Ressa yang sehat & lucu, juga sahabat2 yang selalu mengingatkanku akan kebaikan.

Terima kasih Ya Allah...
Nikmat dan KaruniaMu sungguh tak terhingga..
Ampuni aku kalau kadang aku lupa untuk mensyukurinya
Jangan karenanya Engkau menjadi murka padaku Ya Allah..
Jadikan aku, keluargaku dan keturunan2ku menjadi hambaMu yang pandai mensyukuri semua nikmat dan karuniaMu

Nah sahabat2ku, itulah sedikit latar belakang keberangkatan hajiku di tahun 2005 lalu. Mohon maaf jika ada kata2 dari ceritaku ini yang kurang berkenan dihati. Mungkin juga alur ceritaku yang morat-marit. Mohon maklum, karena aku bukan seorang penulis novel. Tidak ada niatan lain dari apa yang aku ceritakan kecuali ingin berbagi cerita dengan kalian, sahabat2ku yang aku cintai. Semoga kalianpun dapat segera berangkat untuk memenuhi undanganNya. Karena tanpa kita sadari sebetulnya undangan itu sudah Allah sampaikan kepada kita, cuman telinga kita mungkin kurang peka untuk mendengar panggilanNya.

LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK
LABBAIKA LA SYARIKA LAKA LABBAIK
INNAL HAMDA WA NIKMATA LAKA WAL-MULKA
LAA SYARII KA LAK


"Aku datang memenuhi panggilanMu ya Allah,
Aku datang memenuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiNya,
Ya Allah aku penuhi panggilanMu.
Sesungguhnya segala puji dan kebesaran untukMu semata-mata.
Segenap kerajaan untukMu.
Tidak ada sekutu bagiMu"


Allah Yang Maha Memberi rezeki, yang Memiliki kekuatan akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.

1 komentar:

KiTa... mengatakan...

Rien, aq bener2 terharu denger ceritamu, mudah2an aq+suamiku bs cpt memenuhi panggilan Allah di tanah suci, doakan ya...